Assassin’s Creed Origins Review: Plus-Minus, Cerita, Map & Gameplay 2024
12 mins read

Assassin’s Creed Origins Review: Plus-Minus, Cerita, Map & Gameplay 2024

word-buff.com – Assassin’s Creed Origins review selalu menarik dibahas karena game ini menandai titik balik besar untuk seri Assassin’s Creed. Ubisoft tidak sekadar memindahkan lokasi ke Mesir Kuno, tetapi merombak struktur gameplay, sistem progresi, juga cara bercerita. Hasilnya, Origins terasa seperti identitas baru yang cukup berani, meski tetap membawa DNA lama sang franchise. Pertanyaannya, apakah perubahan besar ini benar-benar membawa kualitas lebih baik atau justru membuat seri ini kehilangan jati diri?

Lewat review Assassin’s Creed Origins ini, saya ingin mengulas plus minus pengalaman bermain di 2024. Termasuk cerita, desain map Mesir, gameplay bergaya RPG, sistem level, combat, hingga microtransaction yang sering memicu debat. Jika kamu ragu untuk mulai main kembali atau baru ingin mencoba, Assassin’s Creed Origins review berikut bisa jadi bahan pertimbangan sebelum menghabiskan puluhan jam menjelajahi pasir panas gurun.

Assassin’s Creed Origins Review: Kisah Bayek Di Mesir Kuno

Pondasi terkuat Assassin’s Creed Origins review bagi saya terletak pada karakter utama, Bayek. Ia bukan sekadar pembunuh bersenjata hidden blade, melainkan ayah yang hancur oleh tragedi. Motivasi personal menjadi alasan utama perjalanan panjangnya di Mesir Kuno. Cerita terasa jauh lebih emosional, tidak hanya soal perang rahasia antar faksi misterius, tetapi juga soal kehilangan, penyesalan, dan rasa bersalah. Pendekatan ini membuat Bayek terasa manusiawi, bukan sekadar mesin pembunuh.

Latar Mesir Kuno memberi ruang cerita dengan nuansa politik, agama, juga konflik kekuasaan yang kompleks. Kita bertemu tokoh sejarah seperti Cleopatra dan Julius Caesar, namun Assassin’s Creed Origins review sisi naratif menunjukkan bahwa sorotan utama tetap berpusat pada Bayek serta Aya. Ubisoft berusaha menyeimbangkan fiksi dengan fakta sejarah, sehingga plot masih dapat dinikmati gamer kasual, tanpa perlu hafal buku sejarah. Meski begitu, beberapa momen terasa klise dan mudah ditebak.

Di sisi pacing, kisah utama kadang terhambat oleh sistem level. Beberapa misi mensyaratkan level tertentu, memaksa pemain mengerjakan side quest lebih dulu. Untuk Assassin’s Creed Origins review modern, ini menjadi pedang bermata dua. Satu sisi, side quest membantu memperkaya dunia, mengenalkan banyak karakter kecil. Sisi lain, alur utama bisa kehilangan intensitas karena emosi yang sudah dibangun harus tertahan demi grinding level. Jika kamu tipe pemain fokus cerita, pola seperti ini bisa terasa mengganggu.

Map Mesir Kuno: Luas, Hidup, Tapi Terasa Kosong?

Hal pertama yang mencuri perhatian saat menulis Assassin’s Creed Origins review tentu map Mesir Kuno. Dunia yang tercipta luar biasa luas, memadukan gurun, oasis, kota pelabuhan, hingga piramida megah. Secara visual, setiap sudut memancarkan atmosfer yang kuat. Gurun terasa sunyi sekaligus menakutkan, kota besar seperti Alexandria menghadirkan hiruk pikuk hidup. Detail arsitektur, patung dewa, hingga hieroglif di dinding kuil menunjukkan perhatian serius pada riset sejarah.

Namun setelah rasa takjub awal, muncul satu pertanyaan penting untuk Assassin’s Creed Origins review peta dunia: seberapa padat aktivitas yang benar-benar bermakna? Map dipenuhi ikon, markas bandit, hewan buas, juga harta tersembunyi. Sayangnya, pola aktivitas cenderung berulang. Banyak lokasi akhirnya terasa seperti checklist, bukan petualangan unik. Jika kamu tipe pemain yang senang eksplorasi bebas, hal ini mungkin kurang mengganggu. Tetapi bagi pemburu pengalaman naratif, map kadang terasa lebih luas daripada isi konten yang betul-betul berkesan.

Meskipun begitu, fitur Discovery Tour yang menghadirkan mode edukasi patut diapresiasi. Assassin’s Creed Origins review sisi edukatif menunjukkan bahwa game ini bisa jadi jembatan menarik menuju sejarah Mesir. Mode ini menghapus combat, menggantinya dengan tur interaktif layaknya museum virtual. Untuk pelajar atau penikmat sejarah, fitur ini menambah nilai plus yang jarang dijumpai dalam game AAA lain. Di 2024, kehadiran mode semacam ini menjadikan Origins tetap relevan, bukan hanya sebagai hiburan.

Gameplay, Combat, dan Sistem Level Bergaya RPG

Transformasi terbesar pada Assassin’s Creed Origins review modern terlihat jelas lewat gameplay yang kini sangat bernuansa action RPG. Sistem level menentukan kekuatan karakter, senjata memiliki rarity, juga damage muncul sebagai angka saat menyerang musuh. Combat beralih ke model hitbox dengan tombol serang ringan dan berat, ditambah dodge juga parry. Pertarungan terasa lebih taktis dibanding seri lama, terutama saat menghadapi musuh level tinggi. Namun konsekuensi pendekatan RPG ini cukup signifikan: stealth tidak lagi selalu efektif, karena perbedaan level bisa membuat serangan tikaman khas Assassin tidak instan membunuh. Bagi penggemar formula klasik, hal ini mungkin mengecewakan. Ditambah lagi, kehadiran loot random beserta microtransaction kosmetik maupun senjata menimbulkan kesan layanan tambahan yang mendorong pemain ke jalur pembelian cepat, meski sebenarnya konten berbayar ini masih bisa diabaikan jika kamu sabar grinding.

Sistem RPG, Progress, dan Peran Side Quest

Assassin’s Creed Origins review bagian progres karakter tidak bisa dilepaskan dari pohon skill yang cukup luas. Bayek memiliki tiga jalur kemampuan utama: Hunter, Warrior, juga Seer. Masing-masing membuka gaya bermain berbeda. Hunter fokus busur panah, Warrior menonjolkan pertarungan jarak dekat, Seer menyediakan alat bantu seperti bom asap maupun racun. Kebebasan ini memberi ruang eksperimen, meski beberapa skill terasa terlalu wajib sehingga pilihan build jadi kurang ekstrem. Walau begitu, perpaduan sistem ini cukup segar untuk ukuran seri Assassin’s Creed.

Level karakter bertambah lewat pengalaman dari misi, eksplorasi, juga aktivitas kecil seperti membersihkan markas musuh. Di sinilah side quest memegang peran penting pada Assassin’s Creed Origins review mekanik progres. Banyak misi sampingan memiliki cerita pendek menarik, menyinggung konflik keluarga, pertentangan agama, hingga penindasan rakyat kecil. Saat side quest dikemas serius, grinding tidak lagi terasa sebagai kewajiban membosankan. Namun beberapa misi tetap generik, bertipe ambil barang, bunuh bandit, lalu kembali ke pemberi quest.

Dari sudut pandang pribadi, sistem RPG Origins sebenarnya cukup berhasil, hanya belum benar-benar matang. Pengaturan angka level kadang berlebihan, karena selisih dua hingga tiga level sudah membuat musuh berubah menjadi sponge damage. Bagi Assassin’s Creed Origins review tahun 2024, hal tersebut terasa agak ketinggalan dibanding game RPG modern yang lebih halus menyeimbangkan progres. Meski demikian, sensasi naik level, mendapat senjata langka, lalu kembali menghabisi musuh keras tetap memberikan rasa puas tersendiri.

Combat, Stealth, dan Perubahan Identitas Assassin

Pada seri lama, Assassin’s Creed identik dengan stealth, parkour atap bangunan, juga eksekusi cepat terhadap target penting. Assassin’s Creed Origins review untuk aspek identitas ini cukup menarik. Combat kini menjadi fokus utama, membuat banyak pertempuran berakhir dalam duel terbuka. Sistem lock-on, serangan area, juga serangan charge mengubah cara kita membaca pola musuh. Ada sensasi lebih berat, lebih brutal, terutama saat menggunakan senjata besar seperti tombak atau kapak.

Sayangnya, elemen stealth terasa tidak lagi sefokus dulu. Tembakan busur jarak jauh serta serangan tak terlihat masih ada, namun efeknya sering dipengaruhi perbedaan level. Assassination kini terkadang hanya menguras sebagian besar HP musuh, bukan langsung menghabisi. Untuk Assassin’s Creed Origins review dari sudut pandang pemain lama, perubahan ini agak bertentangan dengan fantasi menjadi pembunuh bayangan. Meski begitu, kehadiran Senu, elang pendamping yang berfungsi sebagai “drone” kuno, memberikan twist menarik pada sistem pengintaian.

Senu memungkinkan pemain menandai musuh dari udara, mencari peti harta, juga mengamati rute patroli. Fitur ini menyatu baik dengan tema Mesir, sekaligus mengganti sistem eagle vision lama. Dalam konteks Assassin’s Creed Origins review mekanik, Senu adalah ide brilian yang membuat fase persiapan infiltrasi terasa alami. Kelemahannya, setelah jam terbang tinggi, proses scanning lokasi kadang terasa seperti rutinitas mekanis, bukan lagi bagian dari roleplay sebagai Medjay penjaga Mesir.

Microtransaction, Grinding, dan Pengalaman Bermain 2024

Salah satu poin kontroversial di banyak Assassin’s Creed Origins review ialah microtransaction. Tersedia beragam kostum, mount, juga senjata melalui toko premium. Untungnya, hampir semua konten tersebut bersifat kosmetik, tidak mutlak mempengaruhi progres utama. Namun keberadaan opsi pembelian booster XP menimbulkan kesan bahwa desain grinding memang sengaja dibuat agak lambat. Di 2024, ketika banyak pemain punya keterbatasan waktu bermain, tawaran jalan pintas berbayar bisa terasa menggoda sekaligus mengganggu. Dari sudut pandang saya, Origins masih bisa dinikmati tanpa mengeluarkan uang tambahan, asalkan kamu menerima ritme progres yang cukup panjang, sekitar puluhan jam hingga kredit akhir.

Assassin’s Creed Origins di 2024: Masih Layak Dimainkan?

Setelah meninjau berbagai aspek, Assassin’s Creed Origins review pada 2024 menempatkan game ini sebagai fondasi penting era baru Assassin’s Creed. Beberapa sistem mungkin terasa kasar jika dibandingkan seri yang muncul kemudian, misalnya Odyssey serta Valhalla. Tetapi keberanian Ubisoft merombak formula patut diapresiasi. Origins tidak sempurna, namun cukup kuat untuk menarik penggemar baru, terutama yang menginginkan game open world besar bergaya RPG dengan latar unik. Mesir Kuno tetap menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi.

Dari sisi teknis, versi terbaru dengan patch terkini berjalan cukup stabil di banyak platform. Visual mungkin tidak lagi berada di puncak standar grafis modern, namun pencahayaan, desain kota, juga animasi lingkungan masih terlihat memukau. Untuk Assassin’s Creed Origins review performa, pengalaman bermain terasa nyaman, meski sesekali muncul bug kecil khas game open world. Tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman, tetapi tetap patut disebut agar ekspektasi pemain tetap realistis.

Pada akhirnya, keputusan bermain Origins di 2024 sangat bergantung pada ekspektasi pribadi. Jika kamu mencari stealth klasik tanpa angka damage, mungkin seri lawas lebih cocok. Namun jika kamu tertarik mengeksplorasi Mesir Kuno lewat kacamata action RPG luas dengan cerita emosional tentang Bayek, Assassin’s Creed Origins review ini menegaskan bahwa game tersebut masih sangat layak dinikmati. Terutama bila kamu siap menerima plus minus sistem level, grinding, juga microtransaction yang mengikutinya.

Refleksi: Warisan Origins untuk Masa Depan Seri AC

Assassin’s Creed Origins review tidak lengkap tanpa membahas warisannya terhadap masa depan seri. Origins membuka pintu menuju formula RPG yang kemudian diperdalam pada Odyssey serta Valhalla. Banyak ide di sini terasa seperti prototipe, namun justru itulah yang membuat Origins menarik dilihat kembali. Kita bisa melihat bagaimana Ubisoft bereksperimen dengan identitas baru sambil tetap berusaha mempertahankan roh lama. Beberapa eksperimen berhasil, sebagian lain masih menuai kritik tajam dari penggemar setia.

Bagi saya pribadi, Origins adalah titik tengah antara dua generasi Assassin’s Creed. Di satu sisi, game ini masih menyisakan nuansa parkour, tower sinkronisasi, juga konflik rahasia antara kelompok tua yang kemudian berevolusi menjadi Assassin serta Templar. Di sisi lain, semua itu dibalut struktur RPG yang lebih modern. Assassin’s Creed Origins review dari sudut pandang jarak waktu menunjukkan bahwa game ini punya nilai historis, bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam perkembangan desain game AAA.

Refleksi terakhir yang patut diambil: kadang seri besar perlu berani mengambil risiko untuk keluar dari zona nyaman. Origins mungkin tidak memuaskan semua pihak, terutama mereka yang merindukan fokus stealth murni. Namun tanpa lompatan ini, mungkin Assassin’s Creed akan terjebak pola repetitif. Sebagai penutup, Assassin’s Creed Origins review ini melihat game itu sebagai langkah penting yang layak diapresiasi. Bukan karena kesempurnaan, melainkan karena keberanian mencoba sesuatu yang baru, sambil tetap mengundang pemain menyelam ke masa lalu Mesir Kuno yang memukau.

Kesimpulan: Menimbang Kembali Origins dengan Kacamata Dewasa

Melihat ke belakang lewat Assassin’s Creed Origins review di 2024, saya merasa game ini pantas mendapat penilaian lebih dewasa. Jika dilepas dari ekspektasi bahwa semua harus serba “Assassin klasik”, Origins berdiri sebagai action RPG open world solid dengan atmosfer kuat, karakter utama menyentuh, serta dunia yang mengundang rasa ingin tahu. Kekurangan seperti grinding, repetisi aktivitas, juga microtransaction tentu tidak bisa diabaikan. Namun ketika kredit akhir bergulir, yang paling tertinggal justru memori tentang perjalanan emosional Bayek, lanskap Mesir berdebu, serta momen hening di puncak piramida saat matahari terbenam. Di titik itu, Origins terasa bukan hanya game, melainkan catatan reflektif tentang asal muasal sebuah warisan yang terus dibicarakan hingga kini.